Sejarah Bandung: Dari Priangan ke Bandung Lautan Api

Menelusuri sejarah Bandung: dari Priangan kolonial dan Parijs van Java, pergerakan nasional, Bandung Lautan Api, hingga KAA 1955 dan kota kreatif masa kini.

Bandung bukan sekadar “Kota Kembang”. Di balik jalan-jalan rindang, arsitektur Art Deco, dan semilir hawa pegunungan, tersimpan jejak sejarah berlapis: dari lanskap Priangan masa kolonial, geliat modernitas sebagai Parijs van Java, bara pergerakan nasional, hingga klimaks heroik Bandung Lautan Api. Menyusuri sejarah Bandung berarti membaca ulang perubahan Indonesia dari dekat—penuh dinamika ruang, politik, dan budaya.

Bandung dalam Lintasan Priangan dan Kolonialisme

Wilayah Bandung berada di jantung Priangan, kawasan dataran tinggi yang sejak abad ke-18 menjadi lumbung komoditas bagi Hindia Belanda. Melalui Preangerstelsel, para bupati diwajibkan memasok kopi secara paksa. Skema ini membentuk pola permukiman, jalan produksi, dan hubungan kekuasaan yang menandai awal integrasi Priangan dalam ekonomi kolonial.

Jalan Raya Pos dan Kelahiran Kota

Terobosan penting terjadi saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membangun Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) pada 1808–1811. Inilah “urat nadi” Jawa yang menghubungkan Anyer–Panarukan, dan melewati Bandung. Demi berada dekat arteri strategis itu, Bupati R.A. Wiranatakusumah II memindahkan pusat kabupaten dari Dayeuhkolot ke kawasan Alun-Alun Bandung pada 25 September 1810—tanggal yang kemudian diperingati sebagai hari lahir kota.

Letak Bandung di cekungan yang subur, beraliran Cikapundung dan dekat lembah Sungai Citarum, turut mendorong pertumbuhan permukiman. Lanskap geologis Cekungan Bandung, sisa Danau Bandung Purba, memberi iklim sejuk yang kelak menjadi magnet urban.

Parijs van Java: Tata Kota, Art Deco, dan Modernitas

Ledakan modernitas Bandung tak lepas dari hadirnya jalur kereta api akhir abad ke-19 yang menghubungkan Batavia–Buitenzorg–Bandung. Arus barang, orang, dan ide kian deras. Kota pun ditata sebagai pusat administrasi dan rekreasi kolonial: jalan-jalan lebar, taman, dan bangunan publik yang merefleksikan optimisme zaman.

Kereta Api, Braga, dan Gaya Hidup Baru

Jalan Braga menjelma etalase kosmopolit: butik, kafe, hotel, dan societeit tempat elite Eropa bersosialisasi. Julukan “Parijs van Java” merekam citra Bandung sebagai kota mode dan gaya hidup—dalam skala Hindia Belanda—yang berpadu dengan lanskap pegunungan.

Arsitektur Ikonik dan Identitas Kota

Warisan visual Bandung dibentuk arsitektur Art Deco dan Indis modern. Gedung Sate (1920) dengan menara khasnya dirancang dalam semangat adaptasi tropis. Gedung Merdeka (dahulu Societeit Concordia) di Jalan Asia Afrika, Hotel Preanger, dan deretan fasad di Braga mengabadikan estetika yang hingga kini memikat pelancong dan peneliti arsitektur.

Di fase ini, Bandung bukan saja pusat hiburan, tetapi juga laboratorium perencanaan kota pegunungan: pemisahan zona, koridor hijau, hingga konsep kota taman yang disesuaikan dengan kontur Cekungan Bandung.

Bandung dan Pergerakan Nasional

Di balik gemerlap “Parijs van Java”, Bandung adalah kawah candradimuka intelektual dan politik. Keberadaan sekolah tinggi teknik (cikal bakal ITB) menyuburkan komunitas ilmiah dan perdebatan gagasan kebangsaan.

Klub Studi dan Lahirnya PNI

Pada 1926, Soekarno menggagas Algemene Studie Club di Bandung, wadah diskusi yang melahirkan strategi perjuangan modern. Setahun kemudian, 1927, Partai Nasional Indonesia (PNI) berdiri di kota ini, mengartikulasikan kemerdekaan politik dan kemandirian ekonomi. Bandung menjadi panggung pamflet, rapat umum, hingga aksi massa yang menantang hegemoni kolonial.

Indonesia Menggugat

Di ruang sidang Landraad Bandung (1930), Soekarno membacakan pembelaan Indonesia Menggugat—sebuah teks yang menegaskan proyek bangsa merdeka. Peristiwa ini menempatkan Bandung sebagai simpul wacana dan keberanian dalam sejarah pergerakan nasional.

Bandung Lautan Api dan Revolusi 1945–1946

Pasca Proklamasi, Bandung menjadi arena tarik-menarik kekuatan Republik, Sekutu, dan NICA. Ultimatum untuk mengosongkan area strategis memicu strategi bumi hangus. Pada malam 23–24 Maret 1946, warga dan pejuang membakar bagian selatan kota agar tak dapat dikuasai lawan. Langit merah menyala; eksodus massal mengalir ke lereng-lereng Priangan.

Divisi Siliwangi di bawah A.H. Nasution memainkan peran kunci dalam pertahanan dan penataan ulang strategi. Nama Mohammad Toha diabadikan sebagai pahlawan yang meledakkan gudang mesiu di Dayeuhkolot. “Bandung Lautan Api” bukan sekadar episode militer; ia adalah simbol pilihan historis: kota rela berkorban demi kedaulatan.

Dari Konferensi Asia–Afrika ke Kota Kreatif

Bandung kembali menorehkan jejak global pada 1955. Konferensi Asia–Afrika di Gedung Merdeka melahirkan Dasa Sila Bandung—semangat solidaritas dan anti-kolonialisme yang menginspirasi Gerakan Non-Blok. Jalan Asia Afrika menjadi lanskap memori, tempat di mana delegasi dari dua benua memetakan harapan.

Industrialisasi, Pendidikan, dan Ekonomi Kreatif

Sejak 1970-an, Bandung memantapkan diri sebagai sentra tekstil dan garmen, disokong jaringan pendidikan teknik dan desain (ITB dan kampus-kampus lain). Pada 2000-an, butik factory outlet, distro, dan startup tumbuh, mengantar Bandung meraih predikat UNESCO Creative City of Design (2015). Kota Kembang menegaskan reputasi sebagai laboratorium kreativitas—dari arsitektur, kuliner, musik, sampai teknologi.

Infrastruktur dan Tantangan Urban

Terhubung tol Cipularang dan kereta cepat Whoosh (beroperasi 2023), akses Bandung–Jakarta kian singkat. Namun, PR kota modern tetap nyata: banjir di kawasan cekungan, kemacetan, dan kualitas lingkungan Citarum. Inovasi tata ruang, ruang terbuka hijau, revitalisasi koridor Cikapundung, serta angkutan massal seperti bus rapid transit menjadi kunci menjembatani warisan sejarah dengan kebutuhan masa depan.

Pada akhirnya, sejarah Bandung adalah kisah tentang tempat yang berkali-kali menegosiasikan dirinya: dari lanskap Priangan, kota kolonial yang memesona, pusat intelektual dan perlawanan, hingga simpul solidaritas global dan laboratorium ide-ide kreatif. Membaca Bandung berarti memahami bagaimana ruang, gagasan, dan keberanian kolektif membentuk arah Indonesia.