Sejarah Sukabumi: Perkebunan, Rel, dan Kota Santri

Menelusuri sejarah Sukabumi dari kampung Sunda, Preangerstelsel, rel kereta 1880-an, kota santri, hingga Ciletuh Geopark dan warisan kolonial yang bertahan.

Ketika kereta uap pertama kali menembus lembah di kaki Gede-Pangrango, Sukabumi berubah dari lanskap perdesaan menjadi simpul ekonomi baru di Priangan. Nama yang kini akrab di telinga ini menyimpan jejak panjang: dari warisan Pajajaran, kebijakan tanam paksa kopi, ledakan perkebunan teh dan kina, hingga lahirnya citra sebagai kota santri. Menyelami lintasan waktu Sukabumi membantu kita membaca ulang pembentukan Jawa Barat modern.

Akar Awal: Dari Pajajaran ke Tanah Priangan

Sebelum menjadi satuan administratif kolonial, wilayah yang kelak bernama Sukabumi adalah bagian dari hinterland Kerajaan Sunda (Pajajaran). Pemukiman tersebar mengikuti aliran sungai, dengan pola agraris: huma, sawah, dan hutan yang dikelola komunal. Topografi pegunungan menjadikan kawasan ini kaya air, namun sulit diakses dari pesisir.

Runtuhnya Pajajaran pada akhir abad ke-16 mengguncang tatanan lama. Jaringan kekuasaan kemudian diperebutkan Banten, Cirebon, dan Mataram, sebelum akhirnya kawasan Priangan diserahkan kepada VOC pada akhir abad ke-17. Dalam orbit VOC, wilayah ini diintegrasikan ke sumbu komoditas global.

Jalur Niaga dan Islamisasi

Masuknya pedagang dari pesisir utara dan selatan membawa ajaran Islam ke pedalaman. Surau dan pesantren tumbuh mengikuti arus migrasi perajin dan saudagar. Tradisi Sunda, dengan kearifan lokalnya, bersentuhan dengan jaringan ulama, melahirkan corak religiositas khas Priangan.

Priangan awal adalah pertemuan tiga arus: agraria, niaga, dan dakwah—fondasi kultural yang akan membentuk Sukabumi modern.

Perkebunan dan Nama ‘Sukabumi’: Abad ke-19 yang Mengubah Lanskap

Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19, VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda memaksakan Preangerstelsel, menempatkan kopi sebagai komoditas utama. Di dataran tinggi selatan Bogor–Cianjur, kebun-kebun rakyat diarahkan untuk memasok gudang kolonial. Jalan setapak dan pos pengawasan merekatkan kampung-kampung ke pusat kontrol baru.

Memasuki pertengahan abad ke-19, teh dan kina mengambil alih panggung. Teh menemukan rumah di lereng-lereng sejuk, sementara kina—kulit pohon penghasil kina/quinine—menjawab kebutuhan global melawan malaria. Lansekap berubah: mosaik kebun teh, pabrik pengeringan, dan asrama buruh bermunculan dari Parakansalak hingga Cikembar.

Etimologi: Dari Sanskerta dan Kolonial

Asal-usul nama “Sukabumi” sering dikaitkan dengan gabungan kata Sanskerta sukha (kesenangan) dan bhumi (tanah): “tanah yang menyenangkan”. Di sisi lain, catatan kolonial menyebut seorang dokter–tuan tanah, Andries de Wilde, memopulerkan ejaan “Soekaboemi” sekitar awal 1800-an untuk menyebut areal kebunnya. Terlepas dari versi mana yang dipilih, nama itu menandai daya tarik ekologis kawasan pegunungan ini.

Tenaga Kerja dan Mobilitas

Ekspansi perkebunan menciptakan mobilitas sosial baru. Buruh dari kampung sekitar—juga migran dari wilayah lain—mengisi kebutuhan panen dan pengolahan. Pasar lokal mekar, menghubungkan hasil kebun dengan kebutuhan harian: beras, garam, kain, hingga alat pertanian. Perlahan, titik-titik keramaian tumbuh menjadi embrio kota.

Sejarah Sukabumi: Rel Kereta dan Lahirnya Kota

Babak paling dramatis datang bersama rel. Pada awal 1880-an—dengan pembukaan jalur Buitenzorg (Bogor)–Soekaboemi pada 1882—kereta api mengubah kalkulus jarak dan waktu. Dalam hitungan jam, hasil kebun mencapai gudang dan pelabuhan; dalam hitungan tahun, pola permukiman bergeser mengikuti derit roda baja.

Stasiun Sukabumi menjelma simpul strategis saat lintasan diperpanjang ke Cianjur dan Priangan timur. Di sekitar stasiun, bermunculan kantor dagang, bank, hotel pegunungan, dan pasar baru. Jejak arsitektur kolonial—dari art deco akhir hingga gaya transisi tropis—mewarnai ruas jalan utama.

Kota Kolonial Baru

Administrasi kolonial membentuk Afdeeling Soekaboemi dalam lingkup Residentie Preanger-Regentschappen. Status gemeente (kotapraja) diberikan pada dekade 1910-an, menandai pemisahan fungsi perkotaan dari pedalaman agraris. Sekolah, rumah sakit, dan permukiman berlapis (Eropa–Tionghoa–pribumi) mempertegas hierarki sosial kota kolonial, meski di ruang yang sama tumbuh pula bibit pergerakan kebangsaan.

Masa Revolusi, DI/TII, dan Identitas Kota Santri

Setelah 1945, jalur pegunungan Sukabumi menjadi ruang gerilya dan logistik. Peralihan kekuasaan tidak seragam; pertempuran kecil, sabotase rel, dan pengungsian mewarnai tahun-tahun revolusi. Ketika Republik meneguhkan kedaulatan, tugas merapikan ruang sosial baru dimulai.

Pada 1950-an, pergolakan Darul Islam/TII di Jawa Barat turut menyentuh pedalaman Sukabumi. Kontestasi ini memperkuat peran komunitas keagamaan. Jaringan pesantren, majelis taklim, dan ormas Islam merapatkan barisan sosial, membentuk citra Sukabumi sebagai “kota santri”—bukan hanya label, melainkan ekosistem pendidikan dan etos sosial yang membumi.

Transformasi pascarevolusi juga terlihat pada ekonomi agro. Kebun-kebun teh dan palawija bertahan, namun pola kepemilikan dan akses kerja mengalami penyesuaian mengikuti regulasi nasional.

Warisan Hingga Kini: Geopark Ciletuh dan Jejak Kolonial

Di selatan, bentang alam Ciletuh–Palabuhanratu memamerkan dinding-dinding batu purba, teluk berbentuk tapal kuda, dan air terjun bertingkat. Penetapan Ciletuh–Palabuhanratu sebagai UNESCO Global Geopark pada 2018 menegaskan nilai geologi kelas dunia, sekaligus membuka bab ekowisata yang menuntut pengelolaan berkelanjutan.

Di utara, kota Sukabumi menyimpan memori material: stasiun tua, bangunan pemerintahan era kolonial, pabrik teh berusia seabad, dan permukiman lama. Perawatan warisan ini bukan sekadar nostalgia; ia dapat menjadi modal ekonomi kreatif dan pendidikan publik.

Di antara pegunungan dan pantai, Sukabumi hari ini berdiri sebagai simpul: pertanian, pariwisata, pendidikan keagamaan, dan warisan sejarah saling bertaut. Rangkaian itu mengingatkan bahwa identitas kota tidak tunggal—ia tumbuh dari lapisan-lapisan waktu.

Kesimpulan: Sejarah Sukabumi adalah cerita tentang bagaimana lanskap membentuk manusia, dan manusia membalasnya dengan jaringan jalan, kebun, sekolah, serta nilai-nilai yang dirawat lintas generasi. Dari Pajajaran ke perkebunan, dari rel ke pesantren, Sukabumi mengajarkan bahwa modernitas bisa lahir dari pegunungan yang sabar.